Tua. Bukan KUA.

Intro

+Cie cie yang udah setahunan.

-Setahun sama siapa coba?

+Sama bini kampus tercintah.

Jadi gimana Fif, mainan hape sambil tidur di kelas belajar selama satu tahun pertama di kampus 日本工学院八王子専門学校? Susah-seneng-sedih-gembira, lumayan banyak yang dilalui. Tapi memang dasarnya manusia, sepertinya saya kurang puas dengan apa yang saya kerjakan satu tahun belakangan ini. Kalau digambar pakai grafik, ada satu lembah yang di sebelah timur terdapat tebing yang naik secara landai. Yes, downgrade beibih.

Seperti tulisan galau beberapa bulan yang lalu, yang ditulis pas pulang kampung, hasil belajar saya semester ganjil benar-benar ganjil. Bukan, ngganjel maksud saya. Dari sekian banyak huruf S yang berjejer rapi di 成績表, ada satu buah B yang mana mengubah daripada GPA saya menjadi satu poin dibawah 2.8 out of 3.0. Maaf bahasa saya macam orde baru. Tapi cintaku padamu berapi-api bagaikan semangat Bung Karno di orde lama kok. Hmm.

But at least, saya sudah merasakan asam-garamnya kuliah di kampus ini selama setahun belakangan ini. Alhamdulillah, semester genap segalanya berubah menjadi genep (bahasa jawa : beres). Dengan nilai yang bisa dibilang memuaskan. Satisfying. BUT, your grade doesnt represent your intelligence. I only followed the golden key how to get a good grade. Of course, for the sake of scholarship. Yeay. The key is : do what sensei told you. Finish.

Lalu apa maksud daripada tulisan yang saya buat malam ini?

Bukan, biasa, this is my own diary. Dan saya emang tipikal suka-suka gue. Mohon dimaafkan. Saya goldar B. Suka iseng dan becanda pula. Itulah kenapa saya kurang punya wibawa di depan orang-orang. (Kok jadi curhat sedih sih?)

Oke. Maksud saya malam ini saudara-saudara, saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya yang sudah lama terpendam beberapa bulan ini. Tepat hari ini saya sudah beranjak menuju angka 21. Sebuah angka yang tidak dapat dihitung dengan jari lagi. Baik itu jemari tangan, jemari kaki, maupun keduanya. Harus ada satu ‘jari’ lagi supaya genap menjadi 21. Aduh maaf ngelantur lagi. *skip* *mulai serius*

Memang, seperti yang banyak manusia katakan, semakin bertambah angka di usia kita, semakin berkurang jatah hidup yang Allah berikan kepada kita. Tambah satu, kurang satu. Kalau sudah berbicara tentang ranah yang berkaitan dengan berkurangnya jatah hidup, sudah tidak bisa lepas dari yang namanya kematian. Ya. Saya sengaja miringkan. Supaya bisa merenungkan lagi sisa hidup yang bakal kita jalani. Hmm, Sepertinya paragraf ini saya cuma omong doang. Semakin kepikiran, semakin khawatir, semakin helpless, semakin tidak bisa apa apa. Semakin tidak dipikirkan, semakin hilang semuanya. Kedua-duanya kurang bijak. Saya benar-benar khawatir dengan kematian itu sendiri. Bukan karena takut mati (ya, saya pernah takut mati. itu dimulai sejak kelas 5 SD dimana saya tidak bisa tidur karena memikirkan kematian. titik balik menuju kedewasaan), tapi karena lebih cenderung ke arah ‘mau meninggalkan apa setelah saya lebur menjadi tanah?’.

Merasa terhenyak juga, hari ulang tahun saya berdekatan dengan hari wafatnya founding fathernya negara kecil Singapura, Lee Kuan Lew. Begitu besar pengorbanan beliau membangun Temasik dari awal, dari bukan apa-apa menjadi raksasa ekonomi di Asia Tenggara. Ada beberapa quote menarik yang beliau ungkapkan saat menjadi PM. Tentang semangatnya membangun Singapura yang sukses dengan mengorbankan hidupnya, ataupun tekadnya memberantas hal-hal yang tidak beres bahkan ketika beliau berada di ranjang pesakitan. Menampar, membangunkan saya dari tidur, walaupun sebentar kemudian bakalan tidur lagi.

Untuk itu, sobat, kalau membaca tulisan saya yang cheesy ini, luangkan sejenak waktu untuk memberi masukan yang membangun, apa yang mesti saya lakukan di usia yang tidak bisa dihitung dengan jemari ini.  Tidak mengharapkan ucapan selamat, karena belum tentu saya akan selamat dunia-akhirat, tapi sedikit pembangun semangat sajah. よろしくお願いします。

Posted in Uncategorized | 3 Comments

Lalu Mengapa?

Saya bersyukur dikaruniai keluarga yang secara tidak langsung mampu menginspirasi, walaupun saya jarang realisasi. Biasa, penyakit bawaan. Penyakit malas.

Ayah saya, orang yang paling tidak bisa berdiam diri. Hobinya baca buku jadi pengetahuannya luas. Bahkan sarjana-sarjana pun mungkin banyak yang cara berpikirnya tidak seperti beliau. Beliau aktif, pengennya sibuk terus. Bahkan di saat beliau seharusnya beristirahat dengan tenang menikmati masa pensiunnya, ada aja yang dikerjakan. Kebun belakang rumah mendadak jadi hijau asri, jadi apotek hidup keluarga karena buanyak rempah-rempah produksi kebun, dan jadi tempat asik buat nongkrong sambil mainan kucing. Yah, berkat tangan bapak. Seringkali suara raungan mesin gerinda (bukan nyebut partai loh ya) meronta-ronta gelisah ketika cakramnya bergesekan dengan besi-besi yang akan digunakan untuk membuat bench di salah satu sudut kebun. Kadang suara paku dan palu pun sering bersahutan mengikat sendi-sendi kaki dipan yang rencana untuk wadah pot tapi larinya buat tempat tidur kucing dan tempat ‘ancik-ancik’ si meong ke jendela mengintip penghuni rumah kalau lagi laper. Atau mungkin suara pompa air yang merknya bukan Sanyo, yang sering beliau gunakan untuk menyiram kebun tiap jam-jam setelah beliau pulang shalat subuh dari masjid dan setelah shalat asar. Ah, kangen suara khas kebun belakang rumah. Suara pertanda bapak sedang beraktivitas. #Point1

Atau mau nurut ibu saya. Dedikasinya tinggi, komitmennya kuat, janjinya hampir selalu terpenuhi. Kalau bicara ceplas-ceplos, kadang saya malu kalau ibu lagi nyeplos, tapi bukan berarti saya malu punya ibu seperti Bu Nur lho. Sangat bangga malah. Sering ikut organisasi, sering ketemu sama banyak orang, simpati dan empatinya tinggi, kadang kalo dibandingin sama saya rasanya jauh banget. Pernah waktu saya numpang mengisi waktu luang di SD tempat ibu bekerja, beliau adalah guru yang paling terakhir pulang. Saat saya masih asik dengan garapan RPP atau laporan-laporan di kantor dan tak lama kemudian saya bosen dan matiin komputer, satu persatu suara pamit-ingin-pulang-karena-jam-mengajar-sudah-usai bersahutan diiringi suara raungan motor bebek yang meraung menggema di sudut parkiran guru. Seringkali hanya tertinggal sebuah motor bebek berplat H6090TB yang masih mendekur menunggu majikannya. Ya itu motor saya. Saya sering diminta untuk nunggu ibu, kecuali kalau saya ada urusan sekolah dan beasiswa (saya daftar beasiswa pas kerja juga). Jam-jam itu ibu saya masih menyapu ruangan, mencuci piring, atau merapikan ruang guru. Sebenarnya ini kerjaan Petugas Kebersihan sekolah sih, cuman karena kebetulan dia agak males (maaf) dan ibu saya sangat rajin, jadilah tugasnya ketuker-tuker. Yah, begitulah ibu saya. Saya jadi kangen suasana SD Harjosari 1 Bawen. #Point2

Atau kalau mau agak jauhan dikit Bulik (bahasa jawanya tante) saya di Banjarbaru, Kalsel. Namanya Bulik Babad. Orangnya rendah hati tapi berwibawa, Tenang tapi juga rame di saat yang sama. Memang posisinya sebagai PNS beliau punya jabatan yang lumayan bergengsi. Tapi bukan berarti jabatan itu digunakan untuk menindas orang di bawahnya. Bukan berarti beliau bisa bicara seenaknya. Kalau baca statusnya di facebook (komunikasi kami sering lewat fb), saya sering kagum dan terinspirasi. Banyak pengalamannya sebagai PNS yang beliau sampaikan dengan gaya bahasanya yang khas dan sering tidak menggurui sama sekali. Bahkan saat beliau jengkel pun, amarahnya disalurkan lewat kata-kata yang lumayan menghibur. Maklum lulusan psikologi. Dari sini kelihatan tingkat intelektualitas seseorang. Beliau adalah anggota keluarga inspiratif setelah kedua orang tua. #Point3

Atau yang paling jauh, saudara jauh dari Riau namanya Bulik Ami. Beliau yang paling bikin saya terkompori untuk belajar sampai luar negeri (walaupun bulik sama sekali ngga pernah ngompori saya) karena beliau berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya bidang Kimia di Malaysia. Waktu nunggu saat-saat keberangkatan ke Jepang, beliau main ke Salatiga, trus saya diajak ke pabrik Coca-cola buat riset tentang cara produksi Coca-cola yang akan beliau presentasikan sebagai bahan kuliah ke mahasiswanya (bukan diajak sih, lebih tepatnya disuruh nganter sama ortu heuheu). Sepanjang perjalanan saya sering cerita macam-macam sama Bulik, tentang kerjaannya sebagai dosen, sebagai peneliti makanan halal di MUI (ternyata ga macem-macem lho nempel stamp halal di produk, ga kaya cover Temp* yang provokatif itu), atau cerita tentang pengalamannya waktu belajar di Malaysia. Dan di akhir perjalanan beliau menilai saya sebagai anak yang ‘ingin tahunya besar’ atau bahasa ilmiahnya kepo di depan orang tua saya. Aduh. #Point4

Setelah cerita 4 paragraf itu, poin akhirnya apa?

Saya cuma mau introspeksi diri aja, mengapa dengan kehadiran mereka yang sangat membangun, justru saya sering hilang arah, sering malas membaca, sering kehilangan semangat, sering asyik dengan kenyamanan hidup di saat saya membutuhkannya. Adakah yang salah dengan diri ini. Tolong segera ingatkan saya bila salah, hardik saya bila terlalu menggampangkan hidup, caci maki saya bila saya sering ‘menghilangkan arah’ saya sendiri. Saya bosan hidup dengan semangat yang begini-begini saja. Saya bosan dikungkung dengan kemalasan.

Lalu Mengapa? Penake dipiyekke?

 

06092014 – di kamar apartemen – masih cari inspirasi (lebih tepatnya berjuang melawan rasa malas) untuk menghabiskan 23 karakter tersisa dari kansoubun yang harus dikumpulkan hari senin besok.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ujian Makan Hati

Kemarin pas lagi nganggur nunggu pesawat di KL iseng2 pengen cerita pengalaman kimatsu shiken yang agaknya bikin makan ati. Gini nih ceritanya.

Minggu ujian yang dimulai semenjak sehari sebelum hari raya kemarin menjadi hari-hari yang paling menegangkan. Lho kok menegangkan? Bukannya waktu SMP-SMK ada ujian-ujian yang gak kalah menegangkan juga? Ini lain sob. Saya dulu sejak kecil emang terbiasa dengan sekolah ‘gratis tanpa syarat’. Apa itu arti? Dari kecil saya sekolah dibiayai orang tua. Dengan kata lain, prestasi sekolah ditentukan oleh kita sendiri. Dan orang tua tidak mempersyaratkan : kamu bakal saya masukin SMK/SMA/Univ kalo nilaimu di atas 7. Jadinya ya, mohon maaf, saya belajar ala kadarnya. Saya belum tau esensi dari ‘belajar’.

Baru setelah saya dengan keberuntungan yang amat sangat bisa lolos beasiswa sampai Jepang dan masuk kampus, saya menjadi orang paling lola se kelas. Walaupun sensei saya memberi semangat saya, tetep, saya lola gara-gara kaget dulu nggak pernah belajar. Hahaha. Kimatsu shiken aka ujian akhir term kemarin jadi biang ketidakbecusan saya dalam mengatur waktu belajar saya. Ujian hancur lebur menurut saya.

Btw, saya setelah lulus semmongakkou nggak mau pulang begitu saja. Saya harus berusaha sebisa mungkin untuk bisa lanjut ke universitas. Tau sendiri kan, kalo disetarakan dengan ijazah di Indonesia, semmongakkou alias sekolah kejuruan itu setara dengan D2, nah kan nanggung. Selain saya ingin tertarik dengan atmosfer belajar di universitas di sini, saya juga pengen cari pengalaman bikin skripsi pake bahasa jepang (ngomong aja lah pengen cari gelar bachelor di negara orang :p). dan untuk bisa lanjut kesitu GPA minimal 2.8. Woh segitu doang? Enteng lah bro. Enteng gundulmu. Itu dari skala 3. Wah berat dong? Iya, berat kencur.

Jadi perkenankanlah saya cerita tentang kimatsu shiken saya :

Minggu

Minggu adalah ujian sertifikasi yang bernama 基本情報技術者試験 (Kihon Jouhou Gijutsusha Shiken, sebut saja kihonjoho) atau Fundamental Information Technology Engineer Exam. Ujian ini meliputi soal-soal informatika dasar (applied math, algo, pemrograman dasar), pengetahuan dasar IT, sampe strategi dan manajemen bisnis, terutama bidang IT. Serem ya? Kalo untuk saya iya sih. Untung sensei bilang ke siswanya kalo ga harus lulus shiken ini. Jadilah belajar saya ngasal. Hasilnya? Dari 80 soal Cuma bener 39. Artinya nilainya hampir 50%. Batas lulusnya 60%. Kebanyakan bener di soal Network sama dikit ngasal di algo. Temen-temen sekelas apa kabar? Dari 55 yang lulus 3 orang. Heuheuheu harap maklum.

Eh tunggu! Hari minggu masuk kampus? Iya. (pasang ekspresi datar)

Senin

Naah, hari senin adalah hari yang sangat dinantikan oleh umat Islam seluruh dunia. Ya! Idul Fitri!! Berarti seorang Afif Syaiful libur sekolah, pergi shalat id, lalu silaturahim seharian dong? Sayangnya tidak. Idul Fitri tahun ini juga menjadi lebaran paling mezurashii bagi saya. Saya ada kelas plus Ujian J-test (J検) level 2. Pagi-pagi ngacir nyepeda ke masjid At-tawheed Hachoji. Alhamdulillah apartemen deket sama masjid. Masuk masjid langsung duduk, bertakbir, menunggu shalat, sambil merenungi nasib. Sudah 2 lebaran saya gak pulang-pulang. Ihik. Setelah itupun imam masjid masuk dan memberikan ceramah dalam bahasa inggris. Lumayan mengena dan nancep. Beliau berceramah tentang hari yang kita harus bergembira dan harus tersenyum kepada siapa saja karenanya. Hari-hari itu adalah Idul Fitri dan Idul Adha. Di 2 hari itu kita dilarang-Nya untuk berpuasa. Saya pun langsung merasa nyes. Saya terlalu banyak mengungkit kesedihan dibanding kegembiraan batin. Cielah apaan ini mblo. Habis itu lanjut shalat, dan khotbah dalam bahasa Arab. Saya ndak mudeng. Tapi mungkin isinya sama namun lebih detail. Setelah khotbah kami semua bersalaman dan berpelukan. Oya di masjid ada Ilham juga. Doi juga setelah itu pulang asrama, belajar. Kimatsu shiken dia ada 10 makul. Ada fisika kuantum di dalemnya. Membayangkannya pun celana saya sudah basah heuheuheu. Kami pun balik ke habitat masing-masing sepulang dari masjid. Saya ngampus, Ilham ngasrama. Sampai kampus, kelas Sistem Strategi dan Manajemen dimulai. Tidak ada materi baru yeah, Cuma ngerjain kakomon alias soal-soal tahun-tahun sebelumnya untuk ujian J検. Habis istirahat siang, shiken dimulai! Saya agak telat sih gara-gara masalah login (ujian pake sistem CBT). Waktu ngerjain Alhamdulillah seperti arus mudik H-5. Lancar tapi kadang macet bermenit-menit. Untuk ujian ini, batas lulusnya 65% dan WAJIB lulus. Soalnya seperti kihonjoho cuman agak sedikit standar. Hasilnya? Mepet! 66%!! Setelah ujian harus lapor nilai ke sensei. Dengan muka malu-malu saya lapor beliau. Saya sudah menduga dia pasti berkata, ‘ah ngga papa muhajir-kun, sudah berusaha kan ya’. Tapi anggapan saya sama sekali salah! Saat saya lapor, beliau masang muka kaget, ekspresi beliau yang sebenernya hanya sepersekian detik tapi serasa 10 detikan. Lalu beliau berdiri, sepertinya mau marahin saya. Lalu beliau berkata, ‘semuanya dengarakan! Muhajir-kun lulus J-test! Tepuk tangan!’. Plokplokplok sekelas tepuk tangan meriah. Seorang Afif lulus shiken dengan nilai megap-megap dan dapat tepuk tangan! Saya kembali ke bangku dengan muka bangga plus heran. Sambil sok bungkuk-bungkuk pula. At least saya nggak perlu shiken ulang setelah natsu yasumi. Alhamdulillah. Lebaran yang lumayan berkesan.

Selasa

Hari itu Kimatsu Shiken dari kampus dimulai. Ada 2 mata kuliah yang diujikan. Sistem Informasi Komputer dan Jaringan Database. Gampang nggak? Kalo belajar ya gampang. Belajar nggak? Dikit doang hehe. Hasilnya? Ya ala kadarnya. Saya pikir soalnya di sekitaran itu-itu aja, ternyata anggapan saya salah. Untuk SIK, materi yang diujikan adalah matematika terapan dan pengetahuan tentang system I/O computer. Ya itu salah satunya. Sebenarnya banyak sih. Saya cuma pasrah. Nggak narget tinggi-tinggi amat. Untuk jaringan nih yang saya nyesel tingkat akut. Banyak yang saya sangka bisa, ternyata waktu ngerjain lupa semua. Akurapopo. Emang saya terlalu ngentengin mata kuliah ini. Setelah itu, saya bertekad nggak mau mengulang hal yang sama. Rabu libur dan saya harus belajar sampai limit yang saya punya.

Rabu

Oke saya nggak main-main. Untuk hari Kamis, makul yang diujikan adalah Sistem Strategi dan Manajemen (saya sebut SSM aja) dan Algoritma. SSM banyak apalan, Algo banyak pemahaman. Tapi karena apalan saya jelek, saya prioritaskan SSM dulu. Sensei bilang materinya sekitar buku pelajaran dan kakomon. Oke sip, saya mulai buka kakomon yang tersedia di internet. Mulai dari jam 9 sampai malam saya mantengin soal terus. Lumayan lah, Afif yang jarang belajar tiba-tiba seharian belajar. Untuk algoritma saya belajar besok paginya karena ujiannya mulai siang.

Kamis

Pagi-pagi jam 9.30 saya sudah di Gakusei Lounge. Saya udah janjian sama temen sekelas yang jago algoritma untuk ajarin saya bagian yang masih saya susah ngertinya. Alhamdulillah, dikit-dikit mulai mudeng. ‘Ah, souka. Ah, sou iu koto ka. Ah, naruhodooo!’ adalah kata-kata yang sering loncat dari mulut saya. Siangnya, ujian pertama adalah SSM. Soal pun dibagikan. Saya hanya bisa mengintip soal itu dengan takut-takut. Terlihat deretan huruf kanji mulai menyeringai sinis menatap wajah saya yang seperti orang kebelet pipis di bis tapi cuma bawa botol aqua. Dengan memberanikan diri saya pun buka soalnya dan baca baik-baik. Alhamdulillah, sebagian besar pernah say abaca di kakomon. Tanpa ba-bi-bu saya langsung tulis アイウエ di lembar jawab. Ada sih satu-dua yang saya nggak paham. Saya asal silang hehe. Semoga nilainya tidak mengecewakan. Tidak percuma berjam-jam mentengin soal.

Selanjutnya algoritma. Hmmm sebuah ilmu yang sangat bermanfaat untuk saya yang membutuhkan pemikiran yang lebih terstruktur (baca: saya orangnya ruwet). Saya sudah mempersiapkan materi-materi tentang array, nibun tansaku (entah bahasa indonesianya apa kurang bisa ngartiin), search key, dan lainnya yang saya pikir bakal keluar di ujian. Setelah kertas ujian disebar dan saya baca baik-baik, Alhamdulillah, kekkou kantan datta! Ternyata lebih ke penguasaan pengetahuan (yang amat sangat) dasar dibanding kemampuan berlogika. Flowchart ini kalo diubah ke bahasa pemrograman gimana, array h(0) itu ditabel x nilainya berapa, dll. 2 lembar selesai dalam waktu kurang dari 30 menit. Akhirnya pulang dengan muka cerah. Setelah pengarahan dan pembagian minuman berenergi (?) saya dan temen sekelas saya yang paling subur balik bareng lewat Stasiun Hachioji-minamino. Saya ada rencana main sama teman-teman seperjuangan untuk silaturahim abis lebaran sekaligus merayakan natsu yasumi yang baru saja dimulai. Janjian sama abang jomblo Deny di stasiun Fujigaoka pukul 17.00 (lebih 15 menit), dan lanjut ke apatonya Diwa dan Ami. Di sana sudah ada Diwa, Irma, Ayu, dan Nita. Mulailah perbaikan gizi. Saya yang biasa makan nasi-kornet-telur pas hari itu makan ketupat opor, sambel goreng ati, bubur mutiara, dan lain sebagainya heuheu. Malamnya main kembang api. Ternyata si abang jombs bawa kamera. Uhuy jadilah kita meng-alay bersama-sama sampai jam 10 malem. Setelah itu, pulang. Ureshikatta. みなさんありがとう!!!

 

2 hari setelahnya, kami bertiga: Saya, Ami, dan Ayu berpetualang ke Osaka dan Kyoto dan merepotkan banyak orang pasukan Osaka: Mustofa, Pio, Ida, Arsyil, dan temannya Ayu (namanya lupa, shitsurei itashimasu). Bagaimana kisahnya? Nantikan beberapa hari lagi.

 

Kuala Lumpur, 6 Agustus 2014

Di sebuah restoran ayam siap saji, Menunggu kedatangan pesawat menuju Jogjakarta.

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Ceritane Sesasi Meneh

*chatting Line keluarga*

Bapak       : Buka (puasa) pake apa lik?
Saya         : Alhamdulillah dapet dr masjid pak hehehe *cling, sambil ngirim foto makanan* Rumah buka pake apa? (maksudnya orang serumah buka puasa pake apa)
Mas Adhe : Kunci. Kalo pake linggis dikira pencuri.
Saya         : *laughing internally*

Ya begitulah. Serumah punya hobi yang sama : ngelawak garing. Bahkan tingkat ke-garing-annya setara tempe mendoan bikinan Bu Tris warung makan persis depan SMK favorit sebagian besar makhluk TKJ B 2009. Walopun kadang Mas Adhe kalo ngelawak beneran lucu sih. Sudah banyak orang yang pasang muka datar kalo saya ngelawak hahaha. Ah, baca chat beberapa hari yang lalu ini bikin saya kangen suasana ramadhan di Indonesia. Sudah 2 kali ramadhan saya berada di Jepang terus. Saya kangen waktu ibu bikin es degan setengah jam sebelum buka puasa. Sebelumnya beliau nyuruh saya atau Mas Amik atau Addin untuk beli degan di jalan kartini deket SMP 1, atau degan depan poltas. Saya juga kangen waktu ibu bikin kolak. Dimana siang sebelumnya bareng-bareng beli kolang-kaling di Pasaraya. Bahkan saya kangen teh manis bikinan ibuk. Kalo saya ngeracik teh sendiri hasilnya kalo nggak terlalu kental, terlalu encer, ya kemanisan.Oh atau momen-momen sebelum lebaran bikin kue. Tentu saja setelah kami maksa ibu untuk bikin kue. Hahaha dasar bocah. Dan seperti biasa, ibu dan Mas Amik sibuk dengan adonannya, Addin sibuk bentuk pola-pola aneh dan misterius (misal: pola default adalah bentuk roda, dan Addin dengan bangganya bikin bentuk monster penakluk luar angkasa *mbuh*), dan saya cuma ngelihat dan bantu makan hahaha. Dan yang selalu berkesan adalah momen lebaran. Ke Jogja, Wonosari, Condongcatur, terus ke Wonosobo adalah rute ‘wajib’ selama seminggu pertama bulan syawal. Ah, natsukashii. Sugu natsu yasumi ni natte hoshii naa.

Omong-omong, saat saya nulis tulisan ini teman sebelah saya ngelihat layar laptop saya sambil bengong. “Nani o haitteru no?”, kata dia. Artinya, lagi nulis/masukin/nginput apaan tuh? Saya jawab, lagi nulis blog nih. Dia sepertinya sangat tertarik dengan apa yang saya tulis dengan bahasa Indonesia. Dia nanya nulis tentang apa, khawatir kalo saya nulis tentang dia (dan saya beneran nulis tentang dia *muka setan*). Ya saya jawab nulis tentang keluarga. Mumpung ramadhan. Pengen pulang cuy. “Tenang, bentar lagi bisa pulang”, respon dia. Dia terus nanya lagi gimana cara bilang “ohayou” pake bahasa indonesia. Saya jawab “Selamat pagi”, respon dia “Asblbbbllb”. Asem. Lalu saya tulis katakananya : セラマット パギ. Langsung manggut-manggut dia. Terus dia bikin candaan : besok kalo mau berangkat sekolah bilang ini ah ke ibu. Hahaha aneh-aneh wae kowe cuk. 

Semoga ramadhan tahun ini melimpahkan kebahagiaan dan semangat-semangat baru seperti tahun sebelumnya. Walaupun berada di negeri orang. Itu bukan penghalang. 

あと一か月ぐらいので、まあ頑張るぞ!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

I’m Coming Back

Assalamu’alaikum

Setelah 9 bulan 10 hari (ini perhitungan ngaco) mandek nge-blog gara2 sering bingung mau nulis apa, akhirnya saya mulai buka lagi blog saya. Sebenernya dulu pengen banget sharing tentang kehidupan, tentang canggihnya sistem transportasi di sini (jujur saya masih saaaangat heran dan gumunan melihat kereta2 listrik itu berseliweran menemani hari2 saya hidup sebagai seorang mahasiswa berstatus jomblo single), terus tentang kampus baru saya, banyak lah. Cuman karena saya bingungan, ya malah ga bisa apa-apa. Aku ra(iso)popo heeee.

Waktu itu jalannya cepet sekali yah, nggak terasa udah lulus sekolah bahasa aja. Padahal kalau secara kemampuan berbahasa saya masih hancur dan seperti bayi makan sendiri (baca: belepotan). Tapi justru dari situ saya malah jadi belajar banyak hal dan mendapat banyak pengalaman unik yang baru. Semangat yok. Masih muda coy udah loyo aje :p

Posted in Cerita Gak Jelas, Reflection | 7 Comments

Alasan Kenapa Tokyo Nggak Kebanjiran

Beberapa hari yang lalu buka Quora, dan ada pertanyaan ‘What are some of Tokyo’s best kept secrets?’, kemudian saya lihat isinya. Ada jawaban menarik dari seseorang bernama Hiroshi Ayukawa, dia menjelaskan tentang penanggulangan banjir di Tokyo. Tahu sendiri lah, Tokyo, apalagi sentralnya itu, banyak gedung dan bangunan sehingga lahan untuk peresapan airnya sedikit. Tapi ternyata teknologi Jepang berhasil menanggulanginya. Oke artikel di bawah ini terjemahan kasarnya ya, maap kurang ahli dalam berbahasa yang baik dan benar.

Ada konstruksi raksasa di bawah tanah yang kita tidak bisa melihatnya secara langsung, tapi ternyata sangat mambantu ketika Tokyo dilanda hujan lebat yang berpotensi menimbulkan banjir. Salah satunya adalah Kanda River Underground Retention Basin yang terdiri atas 4.5 km terowongan yang ‘ditanam’ sedalam 40 meter dibawah tanah. Sistem ini dapat menampung sampai dengan 540.000 ton air ketika Tokyo dilanda banjir.

a1Ini skemanya

a2

Ini ‘wujud aslinya’. Bisa dibayangkan berapa gedenya kalau dibandingkan dengan 2 orang itu.

Contoh yang lain adalah Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel. Terdiri dari 5 buah pipa vertikal yang berdiameter 30 meter dengan kedalaman 70 meter, yang terhubung satu sama lain melalui terowongan-terowongan yang berdiameter 10 meter sepanjang 6.3 kilometer. Sebenarnya ini letaknya ada di Perfektur Saitama, hanya saja dibangun untuk menanggulangi banjir di area Kanto, termasuk Tokyo.

a3Inilah skema dari 5 buah pipa raksasa vertikal yang terhubung satu sama lain itu.

a4

Dan ini pipa raksasa aslinya.

Di titik akhir dari kanal, ada tempat simbolik yang sering disebut dengan Underground Parthenon, yang luasnya mirip lapangan sepak bola dan tingginya 18 meter. Tempat ini bisa untuk kunjungan studi, cocok lah kalau ada waktu buat ke sana.

a5Jujur saya kagum dengan para engineer di sini. Bagaimana cara mereka membuat ‘kehidupan’ di bawah tanah tanpa mengusik apa yang ada di atas tanah. Mereka bisa membuat kereta bawah tanah/subway (地下鉄), sistem pengendalian banjir, pertokoan bawah tanah yang biasanya juga terhubung dengan subway juga, dan lain lain. Yang pasti, selain karena penerapan dari ilmu konstruksi yang telah mereka dapatkan, mereka juga rata-rata tipikal pekerja keras (sudah umum diketahui kayaknya). Karena saya pernah melihat video di youtube cara membuat terowongan yang menembus gunung, di Jerman. Dalam sehari mereka hanya mampu menembus beberapa meter saja, padahal yang harus dikerjakan adalah terowongan sepanjang 5 mil. Dan di Jepang sendiri, kalau ditotal sudah berapa ratus kilometer terowongan yang ada di bawah tanah? Berapa total waktu yang diperlukan untuk membuat itu semua? Kalau dipikir-pikir, sepertinya kurang dari 30 tahun ya mengingat jaman perang dunia II yang benar-benar menghancurkan Jepang, kemudian mereka butuh waktu untuk bangkit secara mental, lalu finansial? Saya benar-benar kurang tahu nih, tolong dikoreksi ya.

Lalu, bagaimana dengan ibukota tercinta kita, Jakarta? Sepertinya belum kapok juga dilanda banjir tahunan. Apakah ini bisa dijadikan solusi? Apakah melalui gubernur Jokowi proyek-proyek besar pembebas banjir (dan tentu saja pembebas MACET) bisa diteken? Kita tunggu saja. Tapi gimana dong kalo 2014 tiba-tiba Jokowi nyapres? Aaaaaaaaaaaaaaaargh makin sakit ini kepala.

Posted in Japan, Life | 9 Comments

Muhammad Al-Fatih

Bagi teman-teman yang merasa kekurangan motivasi, loyo, dan butuh semangat, silakan luangkan waktu sejenak untuk menyimak kisah Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel yang dijanjikan Rasulullah SAW. Disampaikan oleh ustadz muda keturunan Tionghoa, Felix Siauw. Begitu heroik, begitu dramatis, sebuah perebutan kota terbaik sepanjang masa, menurut saya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment